Kamis, 14 Oktober 2010

BAGAIMANA CARA BAHAGIA.

· Berbagi kebahagiaan dengan orang lain

· Menganalisa memori-memori yang menyenangkan

· Pujilah diri Anda sendiri

· Fokuslah pada sensasi yang menyenangkan

· Selalu berpikir positif dan berpikir bahwa Anda bisa melakukan hal dengan lebih baik

· Lakukan aktivitas yang Anda sukai

· Berpura-puralah bahagia meski sebenarnya Anda sedang tidak dalam suasana bahagia

· Rayakan momen besar dalam hidup Anda

· Jauhkan pikiran suram, ketakutan dan keraguan

· Katakan 'terima kasih' sesering mungkin

Jumat, 08 Oktober 2010

“MASA DEPAN BERAWAL DARI PIKIRAN”

Kehidupan ini adalah suatu anugerah yang kita dapatkan dari TIAN. Kehidupan ini adalah suatu misteri tetapi hidup ini pun suatu perjuangan, penuh dengan harapan, cita-cita dan keinginan serta begitu banyak rintangan dan halangan yang datang setiap saat.

Di dalam kehidupan ini kita pasti memiliki suatu cita-cita yang akan kita capai saat nanti. Dan cita-cita tersebut harus mampu kita capai dengan usaha kita sendiri dengan usaha yang kita miliki.

Apa yang harus kita lakukan ??? persiapkan semuanya dari awal. Jangan kita menganggap semuanya itu seperti membalikkan telapak tangan.

Saya pernah membaca suatu buku dan di dalam buku tersebut ada sebuah cerita tentang seorang kakak dan adik. Judul cerita nya adalah “KEHIDUPAN SEPERTI NAIK TANGGA”.

Setiap anak tangga yang kita pijak kita ibaratkan itu sebagai suatu harapan dan usaha yang akan kita lakukan..

Cerita sebagai berikut :

KEHIDUPAN SEPERTI NAIK TANGGA

Ada sepasang kakak dan beradik yang baru pulang dari bertamasya. Mereka membawa sejumlah pakaian, makanan ,peralatan dan sebagainya yang di simpan di tas dan ransel di pundak mereka.

Ketika mereka sampai di apartemen, ternyata listrik padam. Mereka berdua memutuskan untuk naik tangga menuju tempat tinggal mereka yang berada di lantai 50. setelah menaikki tangga sampai lantai 20, mereka mulai kelelahan. Si kakak berkata, “Tas dan ransel ini begitu berat, mari kita titipkan ke satpam. Kita akan ambil kembali setelah listrik hidup kembali.”

Setelah menitipkan tas, mereka pun melanjutkan naik tangga. Sampai di tingkat 30, mereka saling mengomel dan ribut. Hal ini terus berlanjut sampai lantai 40. lalu mereka beristirahat sebentar, dan bersepakat untuk tidak ribut lagi yang hanya akan menghabiskan energi mereka. Setelah itu mereka melanjutkan naik anak tangga lagi, dan akhirnya sampailah mereka di lantai 50.

Sesampainya di depan pintu, si kakak meminta adiknya segera membuka pintu agar bisa masuk ke dalam dan segera istirahat. Merasa tidak pernah memegang kunci, adiknya berakata “Bukankah kuncinya ada di tempatmu?” kakaknya baru menyadari bahwa kunci pintu itu ia simpan di dalam ransel yang dititipkan di lantai 20.

Apa pesan yang kita dapatkan dari cerita tersebut :

cerita tersebut mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan ini terutama selagi berusia muda atau 20 tahunan kita harus mampu mempersiapkan segalanya dengan baik, bekerja dengan cerdas dan cermat, tidak menyia-nyiakan waktu, agar saat kita memasuki usia tua kita tidak menyesal..

Di dalam cerita diatas, kalau saja mereka mempersiapkan segala yang dibutuhkan, seperti kunci dan makanan, mereka bisa beristirahat dan bersantai sesudah berjuang keras. Kini, karena kelalaian tersebut, mereka terpaksa menginap di luar apartemen mereka. Untuk turun kembali ke lantai 20 dan naik lagi ke lantai 50 tidaklah mungkin, kondisi mereka sudah terlalu lelah. Demikian juga dengan kita, setelah berumur tua kita tidak mungkin lagi mengerjakan apa-apa yang belum kita kerjakan saat muda.

Banyak orang yang setelah tua baru bisa menghargai kehidupannya. Mereka baru menyadari dan menyesal karena selagi muda mereka tidak mau belajar, tidak mau memanfaatkan segala kesempatan yang ada, tetapi justru hanya menyia-nyiakan sehingga waktu terlewat begitu saja. Mereka terlanjur tidak mempersiapkan segala-galanya untuk masa tua. Namun apa yang disesali nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terlambat.

Contoh lain :

saat kita menuntut ilmu selama kita mengenyam pendidikan dan juga terus belajar untuk mendapatkan suatu ilmu pengetahuan. karena"pendidikan boleh berakhir tetapi, belajar harus dilakukan sampai akhir hayat" kata-kata itu menunjukkan selagi kita masih muda dan diberi kesehatan dan kemampuan lakukan hal untuk mendapatkan sebuah ilmu yang berguna untuk masa depan kita nanti. manfaat kan waktu dengan sebaik-baiknya jangan hanya mengucapkan nanti, nanti dan nanti.. karena hidup ini penuh dengan misteri. kita tidak akan yang tw apa yang akan terjadi saat ini, esok dan lusa. kita hanya menjalani kehidupan ini dengan tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Jadikan setiap orang menjadi guru, setiap tempat menjadi sekolah dan setiap jam adalah jam pelajaran.

"hidup itu adalah pilihan, perjuangan, masalah, pembelajaran &


seperti sebuah sabda nabi khongcu :

Nabi bersabda, “Bila orang tidak mau berfikir tentang kemungkinan yang masih jauh, kesusahan itu tentu sudah berada di dekatnya”.

Kesimpulan :

Persiapkanlah segala sesuatu dari sekarang, Manfaatkanlah waktu untuk menuntut ilmu dan jangan

menyia-nyiakan waktu.

Rabu, 06 Oktober 2010

4 PILAR BELAJAR

Pendidikan sebagai unsur penting bagi dunia dewasa ini, tak dapat dikesampingkan lagi perannya dengan dan untuk alasan apapun.. Empat pilar ini dipandang paling ideal guna mewujudkan pendidikan yang ideal bagi kemanusiaan. Ke-empat pilar itu adalah learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

  • Learning to know adalah belajar untuk mengetahui.

Dengan pilar ini UNESCO hendak menekankan agar anak-anak memperoleh pengetahuan yang benar sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.

Kǒngzǐ pun berpandangan bahwa hakekat manusia adalah baik. Ia juga menekankan bahwa salah satu alasan utama orang menjadi tidak baik adalah karena ketidaktahuan. Maka bertentangan dengan Daoisme yang berpandangan bahwa pengetahuan merusak kemanusiaan yang baik,

Kǒngzǐ justru mengajarkan agar orang terus belajar dan mencari pengetahuan seluas-luasnya. Konsep Kǒngzǐ ini diterapkan secara luas dengan memberi tempat yang kuat bagi seni, puisi, sastra, dan bahkan tradisi demi mengimbangi ajaran filsafatnya. Seni menjadi sarana hiburan batiniah yang sekaligus menyeimbangkan keutuhan manusia. Atau dengan kata lain pengetahuan yang dipikirkan Kǒngzǐ memang tidak hanya sebatas ilmu rasional tetapi juga meluas pada pengetahuan yang mengolah rasa, jiwa, dan spiritual manusia.

Dengan demikian learning to know adalah proses mencari pengetahuan seluas mungkin dengan sasaran keutuhan manusia dalam akal budi, hati nurani, dan spiritual. Hal ini mirip dengan paham antropologi modern yaitu pneuma, psyche, dan sama.


  • Learning to do adalah belajar untuk melakukan. Hal ini ditetapkan sebagai arah pilar yang kedua yakni pada kemampuan untuk bertindak dan berkarya.

Pengetahuan yang luas harus diterapkan untuk bisa dijadikan sebuah tindakan dan karya yang baik. Sejalan dengan itu, Kǒngzǐ pun telah menekankan bahwa orang harus berbuat atau berkarya. Bertolak belakang lagi dengan Daoisme yang mengajarkan agar “tidak melakukan apa pun”, Kǒngzǐ mengajarkan (berbicara tentang moral) “berbuat tanpa pamrih”. Kǒngzǐ sering mengaitkan ini dengan konsep Ming (sering diterjemahkan sebagai takdir, nasib) yaitu orang harus tetap berusaha untuk berbuat dan berkarya yang baik tanpa pamrih karena nilai luhur dari tindakan bukanlah terletak pada hasil melainkan pada proses di mana orang melaksanakan sesuatu tanpa menghiraukan apakah secara lahiriah perbuatan itu berhasil atau gagal. Kǒngzǐ berkata “Manusia bijaksana bebas dari keragu-raguan; manusia berbudi luhur bebas dari perasaan cemas; manusia yang berani bebas dari ketakutan”. Ucapan ini berarti orang akan bahagia jika bebas dari kecemasan apakah akan berhasil dan bebas dari ketakutan akan gagal. Jadi, tindakan dan berkarya adalah sebuah kewajiban manusia di mana nilai dari tindakan itu bukanlah lahiriah berhasil atau gagal melainkan pada keteguhan untuk selalu berusaha melakukannya dengan baik.

  • Learning to be adalah belajar untuk menjadi. UNESCO meletakan pilar yang ketiga yaitu sikap tenggang rasa atau merasa “menjadi” terhadap orang lain.

Dalam ajaran Kǒngzǐ, learning to be sepadan dengan teori tenggang rasa (Chung) dan altruisme (Shu) atau Tiong Si. Teori tenggang rasa (Chung) dijelaskan dengan perkataan, “Apa yang diri sendiri tiada inginkan janglah diberikan kepada orang lain "”.

Teori altruisme (Shu) yaitu “Jangan lakukan kepada orang lain sesuatu yang kamu tidak ingin orang lain melakukannya padamu”. Maka jelaslah bahwa Kǒngzǐ pun telah memiliki kesadaran pentingnya merasa “menjadi” terhadap orang lain.

Hal ini menunjukkan olah rasa yang diasah yaitu menjadi mengerti akan orang lain seperti diri sendiri, menjadikan diri sebagai tolak ukur refleksi moral. Selain itu juga ada ajaran pembetulan nama yaitu orang hidup sesuai dengan nama (jabatan, peran sosial). “Hendaknya penguasa menjadi seorang penguasa, menteri menjadi menteri, ayah menjadi seorang ayah, dan anak menjadi seorang anak”. Maka orang perlu menghidupi atau menjadi sesuai “nama”-nya.

  • Learning to live together adalah belajar hidup bersama. UNESCO meletakkan pilar keempat yaitu orang belajar untuk hidup bersama orang lain atau bersosialisasi dalam masyarakat. Kǒngzǐ pun telah menegaskan bahwa kemanusiaan yang tertinggi adalah pada tahap hidup sosial bersama orang lain. Dalam hal ini kita temukan rasa kemanusiaan (jen) sebagai landasan moral dan etika. Pada kesimpulannya Kǒngzǐ menyatakan bahwa cinta kasih.

“Rasa kemanusiaan terkandung dalam sikap mengasihi terhadap manusia yang lain”.

Manusia yang benar-benar mengasihi orang lain adalah manusia yang dapat melaksanakan kewajibannya dalam masyarakat.

Oleh karena itu, di era modern ini tampak nyata bahwa pemikiran Kǒngzǐ masih relevan untuk dapat diterapkan. Sekalipun pandangan UNESCO tetang keempat pilar pendidikan yang ideal tidak murni bertolak dari paham ajaran Konfusianisme tetapi inti yang hendak disampaikan mengakar pada suatu prinsip yang sama yaitu humanisme yang merupakan takaran ukuran kemanusiaan yang integral dalam keseluruhan aspek ontologis manusia.


Kita tidak bisa memilih lahir di zaman apa, lahir di masyarakat seperti apa, namun yang jelas kita bisa memilih nilai, pandangan atau ajaran seperti apa, pembelajaran, tujuan atau target seperti apa yang akan kita pilih. Selanjutnya membangun konsep hidup yang positif, berjuang tanpa mengenal kalah, from zero to hero , dari seorang yang biasa menjadi seorang yang Luar Biasa itulah proses belajar.
Jadikan setiap orang menjadi guru, setiap tempat menjadi sekolah dan setiap jam adalah jam pelajaran.
"hidup itu adalah pilihan, perjuangan, masalah, pembelajaran & ...
Belajar bukan sekedar belajar, belajar untuk belajar....
dimana suatu proses yg tidak ada batas hentinya sampai tutup usia barulah b'akhir..."
Apa yang saya dengar, saya tahu
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham